Home HAM Film Asimetris, “Sisi Gelap Industri Kelapa Sawit”

Film Asimetris, “Sisi Gelap Industri Kelapa Sawit”

3 min read
0
0
2,281

Sumber: Google., Twitter YLBHI.

Jakarta, SwarnaInstitute.org-. Puluhan aktivis jurnalis dan mahasiswa menghadiri pemutaran film dokumenter “Asimetris” produksi Watchdoc di Kantor YLBHI, Jakarta Pusat, (13/3/2018). Film mengulas kondisi kerusakan pembakaran liar akibat pengembangan sektor industry kelapa sawit di hutan  Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Film garapan Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz adalah salah satu dari kesembilan film Ekspedisi Indonesia Biru yang  diproduksi.

Film berdurasi 1:08 jam mengisahkan tentang rencana pemerintah membuka 11 juta hektar lahan sawit di seluruh Indonesia. Testimoni warga tempatan terkait dampak pembakaran hutan yang dilakukan oleh oknum atas kepentingan pengembangan industri sawit yang melanda Kalimantan dan Sumatera.

CEO Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono mengatakan, film itu dibuat agar publik mampu melihat kaitan erat industri sawit dan kebakaran hutan sebagai persoalan laten.

“Kemudian kami putuskan untuk mempertajam produksinya. Daerahnya diperluas tak hanya Kalimantan, tapi juga Papua dan Sumatera,” ujarnya.

Keputusan  mengembangkan industri sawit demi menjawab kebutuhan dunia komoditas yang menjadi bahan baku industri besar global: makanan, kimia dan bahan bakar.

Dirilis serentak 27 kota dan digarap oleh 13 orang videografer, Dandhy berharap peluncuran serentak film menimbulkan interaksi sosial, pertukaran ide, gagasan, dan konsolidasi sosial kalangan warga.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI IPOA) di laman resminya, September lalu, menyebutkan Indonesia menjadi eksportir sawit terbesar di dunia dengan total produksi 33,4 juta ton tahun 2016.

Manajer Penanggulangan Bencana Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Mukri Friatna mengatakan apa yang digambarkan dalam ‘Asimetris’ adalah realitas terjadi sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Atas kepentingan gaya hidup, banyak kejadian dari peristiwa pembakaran memiliki dampak negatif bagi lingkungan dan manusia, menjadi kesenjangan bagi mayoritas petani setiap hari mengandalkan panen dari pertaniannya. Paksaan pembakaran hutan demi kepentingan kelompok menjadi hal yang lumrah bagi pemerintah.

 

Penulis: Fauziah Rivanda

Editor:  Banu Syairi

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In HAM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

Pertunjukan Seni dan Tari asal Jawa yang dikenal Langendriyan yang ditampilkan oleh Sangga…