Home Berita Merdeka Sejatinya

Merdeka Sejatinya

5 min read
0
0
794
Sumber: Google.com

SwarnaInstitute.org. 17 Agustus tahun ’45 itulah hari kemerdekaan kita, hari merdeka nusa dan bangsa hari lahirnya bangsa Indonesia…Meerdeekaa…begitulah petikan lirik lagu karya H. Mutahar yang sering dinyanyikan ketika masa anak-anak dan remaja. Layaknya seperti manusia, setiap bangsa pun punya hari kelahiran baik  “lahir secara proses normal maupun secar”. Lahir menjadi bayi dari “rahim Ibu pertiwi” kemudian menjadi anak – anak, remaja, dewasa hingga lansia, dari mereka ada bangsa yang berakhir pada masa remaja, dewasa bahkan ada yang dipanjangkan umurnya hingga pikun agar tidak mengetahui lagi cita-cita luhur bangsa tersebut yang pernah diikrarkannya.

Tepat hari ini bangsa INDONESIA sedang merayakan hari lahirnya yang ke 73 tahun sekaligus menjadi tuan rumah ASIAN GAMES untuk ke-2 kalinya, usia yang cukup tua untuk ukuran negara berkembang yang bangsanya masih menjalani tradisi lomba balap karung, bakiak, makan kerupuk dan tarik tambang yang digemari anak – anak hingga orang tua, oleh karenanya tak heran pada perhelatan ASIAN GAMES, saat babak penyisihan Tim Sepak bola (Garuda) ditaklukan oleh sebuah negara yang sedang bergejolak Palestina dengan skor 2-1, Tim Basket putra dihajar oleh Tim Basket Korea Selatan dengan skor telak 65 – 104 dan Tim Polo air putri dihajar habis oleh Tim Polo air Jepang dengan skor babak belur 4 – 15. Lalu apa hubungannya tradisi lomba agustusan dengan kalahnya beberapa cabang pada ASIAN GAMES, jawabannya adalah karena olah raga permainan di atas kurang dikenal sejak usia dini khususnya basket dan polo air.

Kehidupan bangsa (kaum) tidak lepas dari hukum PERGILIRAN yaitu kehidupan – kematian, kejayaan – kebangkrutan, seperti bangsa – bangsa yang pernah timbul tenggelam di muka bumi. Sejarah membuktikan hukum tersebut tidak pernah berubah dari dahulu hingga kini, dan sejatinya menjadi pelajaran bagi yang mencerdasinya untuk masa kini dan yang akan datang.

MERDEKA atau MATI! begitulah pekik perjuangan para pejuang di masa silam. Kata MATI bermakna “Lebih baik hidup berkalang tanah daripada hidup di tangan penjajah” artinya keengganan untuk tidak menjadi ekor adalah cita – cita dan harapan, serta MERDEKA adalah “hidup sesuai fitrah” yaitu terlepas dari belenggu dan aturan dari mereka yang memposisikan dirinya selaku Tuan agar selanjutnya kelak dapat hidup di bawah naungan Tu(h)an Yang Maha Esa. Itulah sebenarnya cita-cita dari Merdeka itu sendiri.

Hari ini setelah 73 tahun berlalu tentunya……

Merdeka, bukanlah soal gaji anda naik 5% tahun depan. Dan bukan pula omzet bisnis anda naik 100% tahun ini;

Merdeka, bukan pula perlombaan balap karung, makan kerupuk bahkan upacara pengibaran bendara;

Merdeka, bukan pula anda hidup bebas sebebas – bebasnya meskipun memiliki hak kebebasan;

Merdeka, bukan ini dan itu dst…….

 

Tetapi Merdeka adalah Maharddika (sansakerta) yang bermakna agar bangsa ini memiliki karakter jujur, bijaksana, berbudi luhur, berkualitas istimewa, luar biasa dan sempurna sebagaimana arti dari Merdeka itu sendiri. Sulit memang namun hal tersebut bukan hal yang mustahil sepanjang kita “Merdeka Sejatinya” yaitu hidup sesuai fitrah-Nya sehingga Tu(h)an menjadikan bangsa ini menjadi kepala dan bukan menjadi ekor. Semoga tidak menjadi pikun sebagai sebuah bangsa di usia 73 Tahun.

 

Dirgahayu Indonesia…

 

Esai bebas oleh Saka – 170818

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

Pertunjukan Seni dan Tari asal Jawa yang dikenal Langendriyan yang ditampilkan oleh Sangga…