Home Berita Provokasi Dalam Mempertahankan Ideologi dan Persatuan Bangsa

Provokasi Dalam Mempertahankan Ideologi dan Persatuan Bangsa

6 min read
0
0
538
Sumber: Google.com

Jakarta – SwarnaInstitute.org. Ideologi berkembang seiring peradaban zaman yang kian bergulir. Abad 18 hingga 20, ideologi merambah menuju substansi diri manusia. Ideologi bergerak tatkala heterogenitas individu nampak pada pola berpikir setiap manusia yang bhineka, dengan alih-alih manifestasi yakni demi kemashlahatan suatu kelompok atau individu dari ideologi yang dianut. Para penganut meyakini ideologi yang diperjuangkan dapat mewujudkan tatanan kehidupan harmonis bernegara dan berbangsa tanpa kesenjangan sosial yang akan merugikan manusia lainnya. Ideologi menjadikan manusia memegang teguh suatu “paham” atas dasar ilmiah dan nalar, yang mampu mencapai sebuah persatuan dan kesatuan ideologi. Analogi tersebut merangsang pemikiran manusia untuk menjelajah ideologi yang sesuai dengan keinginan pribadi dan menjunjung tinggi ideologi tersebut agar dapat diaktulisasikan dalam kehidupannya.

Pola pikir setiap manusia yang berbeda tak selalu direpresentasikan menjadi ideologi yang dianut bersama. Perbedaan pola pikir dan latar belakang manusia dalam menentukan ideologi, menuai pertentangan dari pihak yang dianggap tidak relevan dengan ideologi yang dianut. Sehingga resiko yang muncul ialah pembelaan bahkan perlawanan antar penganut ideologi dengan langkah provokasi yang dianulir oknum berintegrasi demi mempertahankan ideologi yang diyakini

Provokasi dianggap tindakan efektif dalam melawan ideologi yang bertentangan antar kelompok ideologi lain. Provokasi menjadi langkah dari suatu gerakan yang konservatif terhadap kebenaran ideologinya, sekalipun terjadi pertumpahan darah. Premis ini hadir dari cara berpikir Cania Citta Irlanie, seorang libertarian yang menjunjung kebebasan setiap individu dalam berpikir dan berpendapat. Ia menganggap pengertian tentang Provokasi tidak diejawantahkan secara filsafat sehingga banyak masyarakat keliru dalam memaknai arti dari Provokasi. Menurutnya, Provokasi sebagai langkah awal dalam mempertahankan ideologi yang diyakini demi keutuhan Negara sesuai persatuan dan kesatuan bangsa.

“Provokasi bukan kata peyoratif yang sering dimaknai menjadi sesuatu yang jahat. Provokasi sendiri artinya bebas nilai, hal itu murni dari nilai provokasi sendiri. Provokasi ialah suatu cara sebuah kelompok yang berjuang mempertahankan sebuah ideologi sehingga ideologi itu tetap bersatu”, tutur Cania dalam Comunication Fair 2018 di Universitas Pancasila (UP) pekan lalu.

Bagi Cania, Generasi Milenial sebagai bagian dari penerus bangsa perlu meningkatkan kualitas diskursus dan pemahaman tentang suatu ilmu. Melalui berfilsafat, manusia mengasah seni berpikirnya serta menganalisis suatu hal dengan ilmiah dan kritis, serta mampu mengupas arti dari Provokasi secara eksplisit.

Secara moral berbasis kebebasan (Liberalisme) yang Cania dukung, provokasi tidak dapat dilarang sebagai bagian dari kebebasan berpendapat setiap individu. Provokasi lazim dilakukan bagi suatu individu atau kelompok yang mendukung perlindungan kebebasan berpikir dan berpendapat terhadap serangan dan ancaman dari berbagai pihak.

“jadi orang boleh melakukan Provokasi, karena itu bagian dari kebebasan pendapat…. Kalo gue udah pasti memprovokasi orang untuk marah pada kerumunan yang mengganggu kebebasan individu (anti-liberalisme)”, pungkasnya.

Mahasiswi FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) UI tersebut mengatakan bahwa NKRI dapat merdeka dari zaman penjajahan Belanda dan Jepang diawali pada sebuah Provokasi yang diperjuangkan oleh pendiri Negara. Negara memprovokasi ideologi nasionalis sebagai bentuk kebebasan terhadap kaum kolonialisme. Akibatnya pertumpahan darah menjadi identitas Provokasi atas konflik yang terjadi.

“para pendiri Negara juga melakukan Provokasi demi mempertahankan keutuhan Negara, pertumpahan darah dari tindakan Provokasi dilakukan oleh pejuang negara agar Indonesia merdeka”. ucapnya.

Ia menekankan persatuan yang dibangun melalui Provokasi harus jelas dan transparan. Sehingga manusia paham dengan wacana provokasi yang patut diperjuangkan demi keutuhan NKRI.

“persatuan ini tergantung persatuan apa dan siapa?, kan itu pertanyaanya. Yang ingin kita capai persatuan yang bagaimana?. Kalau persatuan yang kita capai sudah jelas, baru kita bisa melihat Provokasi seperti apa yang harus kita lawan dan Provokasi seperti apa yang harus kita dukung” ujarnya.

 

Penulis: Fauziah Rivanda

Editor: Banu Syairi

 

 

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

Pertunjukan Seni dan Tari asal Jawa yang dikenal Langendriyan yang ditampilkan oleh Sangga…