Home Berita Melebur Dalam Persatuan Sumpah Pemuda Bersama Peace Train Indonesia 8

Melebur Dalam Persatuan Sumpah Pemuda Bersama Peace Train Indonesia 8

6 min read
0
0
587

JAKARTA – Swarnainstitute.org. Sukses menghelat di Jakarta-Banten pada September lalu, Peace Train Indonesia kembali menggelar kunjungan yang ke 8 di Jakarta-Bogor ke berbagai destinasi, diantaranya Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Gereja Protestan Zebaoth, Vihara Maha Brahma Bogor, dan Pura Giri Kusuma. Berlangsung selama dua hari (27-28 Oktober) kunjungan ini sekaligus memperingati hari lahir Sumpah Pemuda ke 90 tahun yang turut didukung oleh BASOLIA (Badan Sosial Lintas Agama), FKUB (Forum Komunitas Umat Beragama), Sekodi (Sekolah Damai Indonesia), ICRP (Indonesian Conference of Religion and Peace), serta kerjasama Wisata Kreatif Jakarta dan Kokojali sebagai panitia penyelengga. Bersama Korem 061/Sk perayaan Sumpah Pemuda disemarakan dengan Upacara Kebhinekaan sebagai langkah Manifestasi Sumpah Pemuda 1928.

Moda kereta api merupakan salah satu gagasan komunitas Peace Train dalam menjelajah berbagai keyakinan di Indonesia. Mempelajari budaya dan kepercayaan yang beraneka, menjadi alasan Peace Train Indonesia melestarikan keberagaman dan menjunjung nilai toleransi antar lintas iman. Bagi komunitas ini perbedaan suku, agama, dan keyakinan merupakan sebuah keniscayaan dari Sang Pencipta agar manusia saling mengenal dan menjalin tali persaudaraan ditengah intoleransi kemanusiaan yang mengancam seseorang atau kelompok kepercayaan termarginal di Indonesia.

Penggagas Peace Train Indonesia, pdt. Frangky Tambupolon mengatakan toleransi tidak sebatas wacana semata, toleransi patut dihayati dan dipelajari bersama-sama melalui kunjungan terhadap pengenalan setiap budaya dan keyakinan yang dianut, sehingga menimbulkan tenggang rasa antar lintas iman dan saling menghargai setiap perbedaan yang mulai pudar khususnya dikalangan generasi muda.

“Toleransi tak cukup dipelajari di kelas-kelas; kita harus turun langsung untuk bertemu dengan mereka, orang-orang yang kita anggap berbeda” tegasnya.

Peace Train Indonesia kali ini diikuti oleh mayoritas pemuda dibawah usia 20 tahun dari berbagai kalangan, yakni mahasiswa dan pelajar SMA yang berasal dari Jakarta, Depok, Bogor, dan Nganjuk, serta para penyandang disabilitas.

Keterbatasan penyandang disabilitas bukan menjadi penghalang untuk saling memahami toleransi. Yuptiasih Proborini, seorang HRD (Human Resources Departement) yang mengalami cerebral palsy, menganggap semua manusia memiliki hak yang sama dalam mempelajari toleransi. Bagi Yuptiasih, selain mentoleransi keberagaman budaya dan agama, setiap manusia juga mampu mentoleransi dan menghargai penyandang disabilitas layaknya manusia normal pada umumnya.

“bagi saya cerebral palsy bukanlah sebuah penyakit, ini adalah gifted dari Tuhan yang telah diberikan. Jadi semua manusia sama (sederajat) pada umumnya. Semua orang juga harus saling mentoleransi sebagaimana mentoleransi para penyandang disabilitas”, ujarnya.

Selama perjalanan, para peserta menikmati pembelajaran tentang ragam keyakinan dan budaya. Berawal dari Masjid Raya Istiqlal yang bertatapan dengan Gereja Katedral seolah menjadi saksi bisu bertahannya keharmonisan toleransi antar umat bergama. Keberadaan kedua tempat ibadah yang dibangun atas campur tangan manusia yang berbeda keyakinan, yakni perancang Masjid Istiqlal yang merupakan seorang Kristen Protestan tidak menuai intoleransi atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Bermalam di Kemah Kebhinekaan Kodim 061/Sk, Puncak – Bogor dan melaksanakan Upacara Kebhinekaan menjadi momentum meleburnya toleransi antar umat beragama dan keyakinan. Minggu pagi, seluruh pemuda-pemudi dari berbagai kalangan bersatu merayakan spirit nasionalisme dari Sumpah Pemuda.

“seluruh anak bangsa bersatu dalam rangka membulatkan tekad dan satu sumpah bahwa mereka mengakui satu bangsa, satu nusa, satu Bahasa dan tidak ada perbedaan diantara kita. Perbedaan itu adalah suatu hal yang akan mempersatukan bangsa Indonesia ini dan memperkuat persatuan bangsa” ujar Danrem 061/Sk Kol Inf, Mohamad Hasan.

Pura Giri Kusuma, destinasi akhir dari Peace Train Indonesia 8. Khoirul Anam, salah satu inisiator Peace Train berharap kegiatan ini dapat diregenerasi oleh masyarakat lainnya, khususnya kaum milenial demi mempertahankan kerukunan dan konsolidasi antar umat beragama di Indonesia secara universal.

“setelah ini kami berharap kedepan anak-anak muda dapat menduplikasi program ini dengan moda transportasi lainnya. Memperbanyak ruang-ruang diskusi kebebasan berpikir dan pendapat”, pungkasnya.

 

Penulis: Fauziah Rivanda

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

Pertunjukan Seni dan Tari asal Jawa yang dikenal Langendriyan yang ditampilkan oleh Sangga…