Home Berita Liputan Khusus: “Indonesia Darurat Terorisme, Leebarty: Istri Teroris, Korban yang ‘Terlupakan'”

Liputan Khusus: “Indonesia Darurat Terorisme, Leebarty: Istri Teroris, Korban yang ‘Terlupakan'”

11 min read
0
0
384
Leebarty Taskarina, penulis buku “Perempuan dan Terorisme”

Swarnainstitute.org. Usaha Negara dalam menangkal kelompok terorisme masih terus digalakkan. Sejak berakhirnya masa Orde Baru, kelompok teroris di Indonesia mulai muncul dan berkembang dengan gencatan senjata serta bom yang makin mengkhawatirkan. Alih-alih mendukung Reformasi pasca kekuasaan otoriter yang dikendalikan oleh Soeharto selama 32 tahun, kelompok-kelompok tertentu menjadikan dalil tersebut sebagai alternatif dalam menanamkan paham fundamentalis yang ekstrem dan drastis demi perubahan kondisi sosial dan politik agar stabil. Landasan kebebasan berserikat yang dimanfaatkan oleh kelompok teroris nyatanya menimbulkan dampak negatif bagi kemashlahatan bangsa. Potret kerusuhan massal pada tahun 1998 yang menandakan awal Demokrasi berkeadaban, kendati beriringan dengan lahirnya paham-paham radikal yang berlawanan dari sistem Demokrasi terpimpin yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Sehingga tak menampik bahwa kelompok-kelompok radikal menentang dan anti terhadap 5 pilar yang disalib oleh burung Garuda Indonesia. Konstelasi ini memotret pemikiran setiap individu atas krisisnya situasi sosial dan politik yang di terpa Indonesia. Kiat untuk inisiatif dan mandiri dengan menciptakan kelompok yang mampu mengubah kondisi Indonesia menjadi damai dan sentosa, justru mengancam kenyamanan berdemokrasi bahkan memperburuk persatuan dan kesatuan bernegara. Teror bom dan ancaman mati menjadi titik nadir bagi setiap jiwa yang hidup. Tanpa pandang bulu, dalam menjalankan aksinya, kelompok teror tak segan menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai target utama. Bukan hanya menjadi korban, keterlibatan perempuan dan anak-anak dijadikan pioneer oleh aktor tindak kejahatan terorisme sebagai langkah jitu demi melancarkan aksinya. Hal itu tidak terlepas dari doktrin paradoks yang disumpal melalui ajaran-ajaran bernuansa agamis dikemas dalam konsep keagamaan dengan anggapan bahwa melaksanakan serangan bom merupakan proses jihad fi sabilillah dalam melawan sabilithogut. Paham Jihad  yang disemayamkan oleh kelompok teroris dalam menegakkan Islam dengan cara-cara kekerasan sebagai wujud Islam Rahmatan Lil Alamin seyogyanya telah menyimpang dari ajaran Islam sesuai fitrah-Nya yakni ruhama’u bainahum (menebar kasih sayang terhadap sesama).

Premis tersebut melekat dalam pikiran perempuan khususnya dari istri-istri teroris yang juga berperan aktif mengajarkan paham tersebut kepada generasinya walaupun pada dasarnya para istri teroris tidak menginginkan paham radikal diwarisi oleh anak-anaknya. Leebarty Taskarina, dalam bukunya yang fenomenal menyatakan kodrat perempuan sebagai istri teroris sangat tendensius dan menuai rasa traumatik pada batin perempuan. Saat melakukan observasi dan berjumpa dengan narasumber, yakni istri teroris, ia menemukan praktik-praktik keagamaan sepihak yang diterapkan oleh pelaku teroris (suami) terhadap istrinya. Perempuan kelahiran 1988 itu mengatakan salah satu doktrin sami’na wa-atha’na yang dilakukan oleh para pelaku teroris cenderung ambiguitas dan subversi dari pemahaman agama Islam yang haq. Pemahaman konsep sami’na wa-atha’na yang dangkal diterapkan hanya sebatas taat dan tunduk patuh mutlak kepada suami kadung membuat istri pelaku teroris tak berkutik dan bungkam dari praktik diskriminasi yang mengatasnamakan agama.

Mudah terjerumusnya perempuan dalam lingkaran kelompok teroris dibelenggu oleh beberapa faktor ekonomi dan sosial masa lalu yang tak dapat dijamin oleh pemerintah atau negara dan berujung separatis. Terlebih jati diri perempuan hanya yakin dengan satu-satunya pegangan hidup yakni keyakinan akan agama yang dianut selama gejolak ekonomi dan sosial makin mengkhawatirkan setiap harinya, sehingga hal itu tak sulit bagi kelompok teroris laki-laki membujuk perempuan untuk mendapatkan kehidupan harmonis yang diidam-idamkan bersama suaminya.

“dalam menikah, perempuan selalu dimistifikasi bahwa menikah itu hidup akan lebih baik. Menikah dijadikan satu label kenaikan taraf hidup yang dijamin oleh Allah, yang diberikan berkah. Mistifikasi bagi perempuan bahwa menjadi mujahidah adalah pekerjaan yang mulia”, tuturnya kepada Swarna di mall bilangan Jakarta Selatan.

Kekerasan yang dialami istri-istri teroris nampaknya tidak hanya terjadi secara fisik, lebih jauh, Leebarty mengungkapkan bahwa kekerasan simbolik (Simbolic Violence, Bourdieu) juga dilakukan oleh laki-laki teroris. Kekerasan yang dianggapnya sebagai “kekerasan lembut” mampu menatar pola pikir seseorang menjadi penurut dan mudah sepakat dengan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh kelompok paham radikal tanpa adanya perlawanan dan rasa skeptis. Serupa Brainwash dan secara tidak sadar menjelma ke dalam alam bawah sadar seseorang.

“kekerasan simbolik itu bukan hanya kekerasan fisik. Kekerasan simbolik yang dilakukan pelaku teroris (suami) ialah mengasihi dan menyanyangi istrinya tetapi mampu untuk mengubah cara pandang perempuan agar sepenuhnya nurut kepada suami. Seolah-olah perkataan yang dikatakan suaminya adalah perkataan Tuhan”, jelas perempuan yang pernah menempuh pendidikan S2 di Kriminologi FISIP Universitas Indonesia.

Misi kelompok teroris berorientasi pada perwujudan negara Indonesia berevolusi menjadi negara Islam seutuhnya (kaffah) melalui tindakan kekerasan fisik dan simbolik bahkan pengeboman bunuh diri yang dianggap titik kulminasi dari seorang pejuang jihad yang rela mati syahid demi memperjuangkan agama Islam dengan jaminan surga yang telah dijanjikan. Upaya mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Islam sesuai ajaran para nabi dan rasul makin posesif digencarkan kelompok teroris dengan strategi perang yang tak kunjung mereda.

“mengganti ideologi Islam di Indonesia menjadi tujuan bagi kelompok teroris. Mendirikan negara Islam maka menggunakan hukum-hukum Islam bertindak sesuai cara Rasullah, salah satunya berperang. Hal itu tidaklah mudah, maka cara mereka adalah berperang terhadap pemerintah melalui bom bunuh diri”, tandas Leebarty.

Seringkali ibu dari satu orang ini mengatakan bahwa istri teroris tak lazim menyandang status “teroris” tanpa dipahami latar belakang seorang perempuan tergerus dalam lingkaran kelompok teroris. Kisahnya terpancar dari matanya yang menyalang tajam saat bercerita mengenai kondisi istri teroris yang seakan tak menampik hasrat kepeduliannya antar sesama perempuan. Viktimisasi kerap dialami korban oleh masyarakat akibat peran perempuan dalam membantu kelompok teroris yang pada dasarnya istri teroris tidak mengetahui keterlibatan suami dalam kelompok terorisme.

Bagi Leebarty, terorisme bukan hanya musuh dari sekelompok tertentu. Ia mengatakan terorisme merupakan musuh negara. Keterlibatan perempuan dalam kejahatan terorisme menjadi korban yang “terlupakan”.  Masyarakat apatis terhadap peran perempuan yang sesunggguhnya memiliki peran dalam deradikalisasi dan kontra-terorisme. “Perempuan merupakan agent of peace” tegas Leebarty.

Berawal dari tesis yang rampung selama satu tahun, Leebarty tidak menyangka jika hasilnya dimuat menjadi buku Popular yang perdana dilaunching Sabtu, 12 Januari 2019 di Gramedia Matraman, Jakarta Pusat. Meski sempat diiringi polemik saat peluncuran atas kekhawatirannya terhadap korban “istri teroris”, buku Perempuan dan Terorisme: Kisah Perempuan dalam Kejahatan Terorisme mampu meriuhkan khalayak akan pengetahuan kelompok terorisme dan membuka kesadaran berpikir sosok istri teroris. Tekadnya pun kuat kala hal tersebut dijadikan bentuk kongkretnya dalam membantu  istri teroris dan mengubah persfektif pembaca bahwa terorisme bukanlah warisan yang melekat secara biologis, melainkan pengaruh pemikiran (doktrin) yang terbentuk secara radikal dan konservatif.

“royalty dari penjualan buku ini pun saya berikan kepada istri-istri teroris sebagai bentuk tanggungjawab saya dalam melindungi mereka. Karena viktimisasi yang dialami mereka sebagai istri teroris cukup dalam yang sebenarnya mereka bukan pelaku teroris, melainkan korban yang ‘terlupakan’”. Tegas perempuan yang pernah meniti karier di Deputi Bidang Pemberantasan BNN.

 

Penulis: Fauziah Rivanda

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

Pertunjukan Seni dan Tari asal Jawa yang dikenal Langendriyan yang ditampilkan oleh Sangga…