Home Berita “Liputan Khusus” Monique Rijkers – Yerusalem, Kota 3 Dunia

“Liputan Khusus” Monique Rijkers – Yerusalem, Kota 3 Dunia

11 min read
0
1
828
Monique Rijkers, pendiri Yayasan Hadassah of Indonesia

SwarnaInstitute.org. “Oma saya kaget, memang ke Israel tidak masalah? Tidak bahaya? Karena oma dilarang oleh mamahnya untuk kasih tau ke saya bahwa ayahnya oma saya berdarah Yahudi”. Bahwa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan bagi seorang manusia yang lahir dari darah sebuah bangsa besar, dengan eksistensi ideologi yang kokoh, dan warisan bangsa yang megah, Yahudi. Begitulah pesan yang ingin disampaikannya.

Monique Rijkers, mengetahui bahwa dirinya memiliki keturunan berdarah Yahudi sejak tahun 2012. Sebagai penganut agama Kristen yang gemar membaca kitab Perjanjian Lama, ia penasaran ingin mengenal Israel lebih kompleks terutama ambisinya menginjakkan kaki di tanah perjanjian, Yerusalem.

“saya penasaran. Orang Kristen membacanya tentang Israel terus di Al Kitab tapi saya belum pernah kesana. Perjanjian lama isinya tentang Israel. Semenjak tahun 2009, akhirnya saya dan suami mulai nabung untuk pergi ke Israel”, tutur perempuan yang berambut ikal panjang nan terikat.

Bulan November 2012, Monique dan suami beserta ummat gerejanya memenuhi hasrat kuriositasnya untuk pergi ke Israel. Sebagai seorang wartawan, kala itu ia menelusuri tempat bersejarah negri Israel dan bangsa Yahudi dengan kebudayaan sekular dan ritual agama khas Yudaisme yang dilintasi jalur teritorial kekuasaan masing-masing keturunan Israel.

Baginya pemberitaan media-media di Indonesia tentang Israel dan Yahudi, tidak relevan dengan fakta-fakta sejarah yang ia temui. Hingga pada Februari 2013, Monique melakukan liputan komunitas Yahudi di Indonesia bertajuk “Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia”. Ia menyadari orang-orang Yahudi di Indonesia identik dengan ibadah yang eksklusif dan tergolong minoritas.

“waktu itu liputannya tayang jam 11 malam lho, ternyata banyak yang nonton. Jadi semua hal di Indonesia yang mengangkat liputan tentang Yahudi/Israel, pasti mengundang pembaca. Clickbait-nya bagus, karena saat itu komunitas Yahudi di Indonesia masih sedikit (jumlah umatnya)”, kata Monique, seorang wartawati yang pernah bekerja di salah satu stasiun berita televisi swasta.

Berniat memenuhi tugasnya sebagai wartawan, liputan khusus Monique justru bermuara pada kontroversi yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang menganggap pemberitaannya mengancam stabilitas nasional.

“saya dilaporkan ke KPI karena ada salah satu kelompok tidak suka dengan liputan saya. Dan KPI menilai bahwa tidak ada pelanggaran jurnalistik”, lanjut Monique saat merespon kelompok tersebut atas peliputannya.

Monique tak anggap hal tersebut sebagai masalah, sejak peliputan itu rasa penasarannya kian bertambah dan memutuskan diri mempelajari secara eviden tanah kelahiran keimanannya, Yahudi, di negara berlambang “Bintang Daud” tersebut.

Israel, nama lain dari seorang nabi keturunan Ibrahim, anak sulung Ishak yakni Yakub. Eksistensi Israel telah ada sejak masa kerajaan Daud yang pusat kepemimpinannya dipimpin Salomo (Sulaiman). Pada 930 SM, Israel telah menjadi kerajaan dan pusat bangsa-bangsa yang memiliki ibukota bernama Yerusalem. 12 keturunan Yakub dari 4 istrinya, menjadikan Kerajaan Israel sebagai bangsa yang memiliki warisan dan sejarah kekuasaan yang besar.

“3000 an tahun lalu, Israel sudah eksis dengan sistem kerajaannya. Sekarang, Israel berubah bentuk saja, bukan kerajaan lagi tapi Negara, mengikuti sesuai sistem modern”, ujarnya saat liputan khusus tim Swarna di Jakarta.

Keturunan Yahudi meyakini Israel akan kembali menjadi pusat kekuasaan bangsa-bangsa di seluruh dunia. Monique menyampaikan, sesuai hitungan kalender Ibrani pada periode 2019, keturunan Yahudi memasuki tahun 5779. Dalam sejarah di kitab Kejadian, proses penciptaan manusia selama 6 hari yang dihitung dalam satu harinya selama 1000 tahun, akan genap 6000 tahun dan memasuki tahap akhir proses penciptaan manusia dimana Tuhan akan melalui masa istirahat, dan penciptaan kehidupan langit dan bumi dipercaya sudah selesai.

“di kitab suci umat Kristen, dikatakan akan ada langit dan bumi baru lagi. Jadi kalau percaya dengan hitungan tersebut, maka Yesus atau Mesias sebagai juru selamat akan hadir”, tuturnya.

Dalam penerapannya, Monique juga memahami Eskatologi (ilmu tentang akhir zaman) yang mengulas peradaban salah satunya membahas kelahiran kedua Yesus Kristus serta bangkitnya Kerajaan Allah di muka bumi yang didahului masa Tribulasi, kelak seluruh manusia berada dalam kondisi kesengsaraan dan siksaan atas kehendak Sang Pencipta sebagai langkah awal dalam tahap mereparasi bangsa Israel dan sekaligus menjadi titik permulaan bagi Allah untuk menghakimi kekuasaan dunia dan mengawali kekuasaan 1000 tahun pertama melalui kedatangan Mesias sebagai tuan yang diutus oleh Allah.

“nabi Daniel menubuatkan Tribulasi (termaktub dalam Kitab Perjanjian Lama, Kejadian 9:24-27). Dan orang-orang yang akan mengalami masa Tribulasi itu adalah orang yang tidak percaya Yesus dan bangsa Israel. Oleh karenanya, saya sebagai orang Kristen, saya mengajak sesama orang Kristen untuk mengasihi bangsa Israel”, ucap Monique.

Ia juga menanggapi konflik kedua negara di timur tengah antar Israel dan Palestina tidak dipahami berdasarkan sejarah dari kedua negara oleh masyarakat dunia khususnya warga Indonesia. Yerusalam yang telah menjadi ibukota Israel sejak masa kepemimpinan nabi Daud, menjadi perebutan antar tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam. Keterkaitan tiga agama yang mengakui Yerusalem sebagai saksi peristiwa lahirnya masing-masing agama, kadung memicu perdebatan atas hak kepemilikan Yerusalem dan mengacuhkan sejarah silsilah serta keturunan tiga agama besar yang berakar pada Founding Father, yakni Ibrahim.

“Untuk orang yahudi penting, pertama kali membangun bait suci di kota Yerusalem. Untuk Kristen juga penting, yesus disalibkan, meninggal, dikuburkan, dan bangkit di Yerusalem. Bagi orang islam, sama. Yerusalem kiblat pertamanya. Bahkan ada peristiwa Isra Mi’raj di Yerusalem”, kata Monique.

Bangsa Israel, bagi Monique, tidak dapat dipisah dari agamanya, Yahudi. Eksklusifitas bangsa Israel mencerminkan bahwa agama Yahudi tidak menjalankan dakwah layaknya agama-agama lain. Ketetapan dan hukum-hukum Yahudi berasal dari keturunan bangsa Israel hingga generasinya.

“Bangsa Israel tidak (menjalankan) dakwah atau misionaris. Kalau ada orang Indonesia sebar-sebarin agama Yahudi, justru diketawain. Berarti kamu bukan Yahudi sesungguhnya…., tidak ada kewajiban bagi mereka (Israel) untuk Yahudisasi”, tutur Monique.

Monique mengatakan, implementasi hukum-hukum Taurat bagi Yahudi yang ia kaitkan dengan sejarah agama lain semakin terbukti sehingga menjadi dasar dan persfektifnya dalam meyakini Israel sebagai bangsa yang disebut-sebut dalam Kitab Perjanjian Lama sebagai bangsa Pilihan.

“Kita tidak bisa hanya berdasarkan kitab suci, tapi berdasarkan sejarahnya (bukti peninggalan) selain kitab suci. Mencocokan sejarah dunia dan Israel. 613 hukum Taurat bagi Yahudi atas pilihan Tuhan untuk dilakukan sampai nanti pada waktunya Mesias datang”.

Sebagai manusia yang menyaksikan kondisi Israel dan melakukan ekspedisi sejarah ke 25 negara, Monique bertekad menyampaikan informasi dan sejarah Israel ke berbagai kalangan masyarakat. Kiatnya terwujud saat mendirikan yayasan (non-profit) Hadassah of Indonesia sejak 2016. Diambil dari kata Hadassah, yang memiliki nama lain Ester, seorang perempuan keturunan Yahudi yang menjadi ratu oleh raja Ahasyweros dari Kerajaan Persia. Kisah Ester memotret sikap Monique yang berusaha mengedukasi masyarakat untuk tidak skeptis dan alergi dalam memahami sejarah Yahudi. Toleransi beragama ia sajikan dalam Diskusi dan Festival Pemutaran Film Dokumenter (Tolerance Film Festival)  yang menunjukan secara realitas kisah umat-umat agama yang pada hakikatnya dapat hidup dalam rukun dan damai.

“Adanya kebencian, pasti karena ketidaktahuan. Pasti ada yang memberikan informasi, sehingga orang-orang menjadi benci (terhadap Yahudi/Israel). Jadi ada dua yang harus di lawan di bangsa ini, satu, ajaran kebencian dan kedua, ujaran kebencian”, tutur Monique.

 

Penulis: Fauziah Rivanda

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

Pertunjukan Seni dan Tari asal Jawa yang dikenal Langendriyan yang ditampilkan oleh Sangga…