Home Berita Menjadi Sang Pembenar, bukan Merasa Benar oleh Zayn Al-Muttaqien *)

Menjadi Sang Pembenar, bukan Merasa Benar oleh Zayn Al-Muttaqien *)

7 min read
0
0
355
Ilustrasi Alam Semesta wajah dari Hukum Allah sesuai dengan ketetapan dan fitrah-Nya, sebagaimana manusia bagian dari makhluk ciptaan-Nya (Sumber: Beritagar.id)

SwarnaInstitute.org. Melalui sunnah yang telah dibuktikan oleh para Rasul-Nya, Allah memberitahu manusia ‘tatacara’ menegakkan Hukum-Nya. Maka bercerminlah, sudahkah kehidupan saat ini sesuai sunnah Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Sunnatullah layaknya angka satu; karena itu prinsip. Visi, motivasi, spiritual adalah angka nol, karena itu teknis. Tempatkanlah nol di depan angka satu untuk menyempurnakan dan menggenapkannya. Jangan sampai teknis mengalahkan prinsip, atau prinsip dikalahkan oleh teknis.

Bila bekerja tanpa prinsip sunatullah; maka secanggih, seambisius dan se-merasa benar apa pun teknis yang dilakukan, hasilnya hanya merupakan deretan angka nol yang berjajar; Nihil. Sebab, bekerja tanpa berdasarkan sunatullah, adalah bekerja tanpa ‘basmalah’. Bukankah pekerjaan apa pun tanpa basmalah, adalah pekerjaan yang tertolak?

Tanyalah kepada Adam, bagaimana Allah mengajarkan isme-Nya; sebagai bekal Adam menjadi pengganti-Nya (khalifatullah). Jangan tanyakan kepada Adam tentang nama buah-buahan, nama hewan,  dan nama pepohonan; sebab bukan bekal itu yang ia bawa untuk menjadi ‘Pemimpin Dunia’.

Pun, meski Iblis adalah yang pertama ‘menyembah’ Allah dibanding Adam; mengagungkan nama Allah di setiap saat; menggumamkan kebesaran nama Allah di setiap waktu, sampai bibirnya tidak pernah kering karena selalu menyebut nama-Nya; tapi tengoklah perilakunya. Sejatinya, Iblis adalah pembangkang dan penghujat; karena merasa benar dengan jalan pemikirannya.

Ketika Allah menyuruh Iblis untuk sujud kepada Adam, Iblis menyikapi dengan sikap yang di luar instuksi Allah. Dalam keterbatasan pengetahuan yang dimiliki, Iblis telah menunjukkan wujud aslinya sebagai Sang Pendebat atas perintah Allah dan menjadi Sang Penghujat atas asal-usul orang yang diciptakan Allah, “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?’ (QS. Al-Israa’ (17), Ayat 61).

Meski hanya memiliki pengetahuan yang terbatas, tetapi karena ego (Nafsu)  dan kesombongannya, Iblis memaksakan diri untuk bersikap ‘tahu’, padahal sikap yang ia tunjukkan hanyalah sikap ‘sok tahu’ Iblis telah bertindak melewati batas-batas keilmuannya. Tak heran jika Iblis pun dikatakan, ‘telah melampaui batas’ (Toghut).

Bila ada keinginan lain di luar yang Allah inginkan; bila ada ketetapan lain di luar yang Allah tetapkan;  bila ada keputusan lain di luar yang Allah putuskan; bila meniru sunnah lain di luar yang telah Allah sunnahkan, maka pantaslah dinamakan ‘menduakan’.

Secara absolut, Allahlah yang berhak memproduksi hukum, ketetapan, atau keputusan. Dalam kondisi ini, sikap penolakannya kepada Adam, Iblis menantang Allah dan menduakan Allah. Secara tidak langsung, Iblis telah memproklamirkan diri sebagai Rabb tandingan Allah.

Ternyata, menduakan bukanlah perkara sederhana. Ketaatan kepada perintah Allah haruslah tanpa reserve. Disebabkan sikap mendua inilah, iblis terusir dari tatanan kehidupan syurga. Menduakan adalah musyrik, sebuah dosa musyrik yang tidak terampunkan. Tak ada istighfar dalam kemusyrikan, kecuali taubat; kembali kepada semula, sebagaimana Adam telah melakukannya.

Mengapa dosa Iblis tak terampunkan? Bukankah ia selalu mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alam. Mengapa hanya karena menolak sujud kepada Adam, ia harus terusir sebagai ‘warga syurga’. Padahal selama ini, ia selalu mengesakan Allah. Bibir Iblis tidak pernah kering membaca tahlil dan tahmid.

Persoalannya, bukan ‘hanya’ menolak sujud kepada Adam. Tapi, tentang pembangkangan sebagai bukti ada ‘ketaatan lain’ di luar ketaatan kepada Allah. 

Memuji Allah bukanlah dengan ucapan dan nyanyian. Ke-Maha-an Allah ada setelah diwujudkan. Allah akan hadir dengan Maha Terpuji-Nya, Maha Suci-Nya, Maha Besar-Nya, Maha Agung-Nya; setelah hamba-Nya melaksanakan apa yang Dia inginkan.  Ucapan dan nyanyian pujian bukanlah gambaran keimanan dan ketaqwaan. Sekadar memuji Sang Tuan dengan lisan, bukanlah sikap ketundukpatuhan Sang Abdi kepada majikan.

Iblis mengucapkan Allahu Akbar, tapi ia takut membuktikan ‘ke-Mahabesaran Allah. Iblis mengucapkan subhanallah, tapi ia takut mewujudkan ‘ke-Mahasucian Allah’. Iblis mengucapkan alhamdulillah, tapi ia takut mengejawantahkan ke-Mahaterpujian Allah.

Bagi Allah, bukan perkataan yang dibutuhkan, tapi realisasi dari yang diucapkan, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff (61), Ayat 3).

Melalui pengajaran Allah yang telah ‘dibahasakan’ dalam sunnah-Nya, karakteristik-Nya, perilaku-Nya, kebiasaan-Nya; maka sebagai orang yang sudah bersyahadat, buktikanlah bahwa Allah itu benar-benar yang Maha Akbar, Allah itu benar-benar yang Maha Terpuji, Allah itu benar-benar yang Maha Suci, karena syahadat bukanlah sekadar saksi dalam ucapan, tetapi syahadat adalah ‘siap membuktikan kebenaran sebagai Sahid/Saksi’. Orang yang bersyahadat adalah orang yang telah siap menjadi ‘Sang Pembenar’; bukan yang merasa benar.

Perjuangan menegakkan Hukum Allah di muka bumi, haruslah sesuai sistematika wahyu berdasarkan sunatullah dan sunah Rasulullah, karena perjuangan bukanlah memanfaatkan euforia momentum dalam mencuri kesempatan.

Editor : Yudistira Sweta Dwipa.

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

Pertunjukan Seni dan Tari asal Jawa yang dikenal Langendriyan yang ditampilkan oleh Sangga…