Seminar Nasional: Arah Penegakan Hukum & Demokrasi Pasca Pemilu 2019 (7/11)

Swarnainstitute.org. Panggung kontestasi Pemilu telah berakhir. Namun mahasiswa tetap kritis berpikir. Pasca demo masif akhir September 2019, mahasiswa konsisten melakukan narasi-narasi produktif dalam rangka memperjuangkan kedaulatan negara yang seutuhnya demokratis. Ruang diskusi untuk memajukan pola pikir mahasiswa tidak hanya sebatas retorika tetapi terbukti nyata. Menjadi wadah pengembangan demi mempertahankan independensi mahasiswa, UIN Syarif Hidayatullah menggelar Seminar Nasional: Arah Baru Penegakan Hukum & Demokrasi Pasca Pemilu 2019 di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (7/11).

Dihadiri Mardani Ali Sera, Ketua Umum PKS, ia menanggapi interpretasi sistem demokrasi di Indonesia masih sebatas demokrasi prosedural dan belum menuju Demokrasi Substansial. Ia juga mengatakan permasalahan implementasi demokrasi substansial mengalami kendala disebabkan dominan politik kekayaan uang yang dikuasai oleh segelintir penguasa. Sehingga dalam 3-4 tahun terakhir ini, indeks demokrasi di Indonesia mengalami kemunduran, tercatat pada tahun 2018 berada di posisi 68 atau terjun bebas 20 peringkat dibanding tahun 2016 yang menempati posisi 48.

“Demokrasi di Indonesia bisa disimpulkan hanya sebatas melaksanakan demokrasi prosedural bukan demokrasi substansial. Demokrasi  prosedural (pemilu, pilkada) yang berlaku tapi tidak substansial, karena politik uang masih jalan. Sehingga indeks kebebasan demokrasi kita menurun”, tutur Mardani saat menjadi narasumber dalam seminar tersebut.

Terjadinya kekuasaan politik mengatasnamakan uang dipengaruhi oleh wacana pemerintahan presiden Jokowi untuk meningkatkan pendapatan perkapita Indonesia dari 56 juta di 2018 mencapai 320 juta di 2045, dan setiap bulannya memiliki pendapatan perkapita sebesar 27 juta/200.000 USD.

“Makanya yang terjadi bukan demokrasi substansial tapi kebanyakan politik uang. Ada upaya demokrasi independen tapi tidak ada interaksi positif yang menghasilkan demokrasi berkualitas”, imbuh Mardani yang saat ini menjabat sebagai anggota komisi II DPR-RI.

Mardani menyampaikan hadirnya para pengusaha atau pebisnis dalam dinasti kepemimpinan presiden Jokowi memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan kapitalisasi di Indonesia yang semakin pesat.

Seminar yang digagas oleh Constitutional Law Festival 2019 ini juga dihadiri Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2003-2008, Prof. Jimmly Asshiddiqie yang membahas secara demografi kuantitas sistem demokrasi Indonesia yang berada pada peringkat terbesar ketiga di dunia. Ia mengatakan pengaruh lain sistem demokrasi yang tidak berkualitas disebabkan kuatnya pengaruh kekuasaan integritas pemangku jabatan atau politikus yang manuver berganti jabatan, sehingga terjadi Democratic Regress dalam Pemilu 2019 lalu.

“kita bisa melihat bahwa kekuasaan yang terlalu kuat akan menimbulkan hilangnya demokrasi karena rotasi kekuasaan menjadi salah satu indikator perubahan iklim demokrasi kita.  Democracy is not just about the election, demokrasi kita bukanlah demokrasi yang substansial tapi masih menganut demokrasi formalistik karena yang memutuskan arah demokrasi 250 juta penduduk Indonesia masih ditentukan oleh 9 partai penguasa “, tutur Prof. Jimmly.

“maka sudut pandang kekuasaan yang oligarkis inilah yang harus diantisipasi oleh hukum secara proporsional agar tidak terjadinya persekongkolan orang dan tumpulnya oposisi pemerintah”, tambah Prof. Jimmly

Bachtiar Baital yang hadir sebagai narasumber, menyampaikan kondisi krisis penegakan hukum di Indonesia dari kacamata hukum tata Negara. Baginya, pemerintah sebagai pemangku kebijakan, cenderung memihak kepentingan kelompok tertentu dan membiarkan demokrasi dikuasai segelintir kaum elite partai yang menuju pada arah kolusi demi kepentingan komodal semata.

“Demokrasi kita dibajak oleh kaum elite. Demokrasi kita terjadi persengkokolan antar kaum elite politik dan kaum komodal yang kemudian mengkhianati konstitusi bahkan mempejualbelikan pasal-pasal dalam  proses pemutusan kebijakan”, tutur Bachtiar.

Bachtiar juga menyesali adanya reformasi konstitusi yang hendak dipurifikasi melalui sistem presidential Threshold namun dipengaruhi partai-partai politik, dan bermuara pada kompromi antara presiden dengan pimpinan-pimpinan partai. Sehingga presiden tidak secara nyata mendapat dukungan penuh dari legislatif.

“Desain sistem presidensil kita itu dikawinkan dengan multipartai. Jadi presiden kita adalah presiden multi partai, sehingga yang terjadi adalah presiden tidak mendapatkan dukungan riil dari MPR/DPR. Dan keadaan tersebut dibelenggu oleh keharusan untuk berkompromi dengan partai politik dalam rangka mengambil keputusan terhadap publik”, tegas Bachtiar.

Hadir pula dalam seminar, Sultan Rivandi, Ketua DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta yang menanggapi wajah demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia yang tidak adil. Ia menilai upaya rekonsiliasi cenderung mengarah pada pembagian kursi-kursi pemerintahan yang menimbulkan inkonsistensi Negara yang selama ini lalai terhadap konflik atau isu yang mengkristal di masyarakat.

“rekonsiliasi akan nol nilainya ketika hanya mengutamakan rekonsiliasi jabatan, tapi tidak pada rekonsiliasi gagasan, sehingga buyar apa yang sebenarnya mau dilakukan negara”, kata Sultan.

Melalui seminar tersebut, Sultan juga menegaskan, kampus dapat mempertahankan sikap kritis dengan adu gagasan dan pandangan demi menjadi mitra solutif yang konstuktif untuk bangsa dan negara.

“Harus ada corong aspirasi dimana ruang akademis terjamin. Tidak terekonsiliasikan oleh negara yaitu kampus. Jadi kampus juga harus menjadi suplay vitamin bagi bangsa Indonesia untuk tetap konsisten memperjuangkan apa yang semestinya dilakukan”, ucap Sultan.

Penulis: Fauziah Rivanda

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

Pertunjukan Seni dan Tari asal Jawa yang dikenal Langendriyan yang ditampilkan oleh Sangga…