Home Berita Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

Peringati Hari Pahlawan, Dompet Dhuafa Gelar Langendriyan bersama Sanggar Suluk Nusantara

5 min read
0
0
219
Pertunjukan Seni dan Tari asal Jawa yang dikenal Langendriyan yang ditampilkan oleh Sanggar Suluk Nusantara

SwarnaInstitute.org – Parung, Bogor (10/11), Sanggar Suluk Nusantara kembali menampilkan pentas seni dan budaya Langendriyan dalam acara “Launching Rumah Kopi “Madaya Coffe” & Rumah Budaya Djampang, Zona Madina, Parung, Bogor, (10/11). Acara yang digelar bersama Dompet Dhuafa ini juga memperingati Hari Pahlawan Nasional Indonesia yang jatuh pada 10 November 2019.

Dihadiri oleh Parni Hadi selaku Inisiator Dompet Dhuafa, ia mengatakan pentingnya pelestarian budaya leluhur Indonesia agar nilai-nilai Pancasila dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Parni juga mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk menjaga dan mempertahankan seni dan tarian yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia di berbagai lini kehidupan. Baginya, kebudayaan bukan hanya persoalan gerak tari dan mimik wajah, melainkan kebudayaan menjadi karakter yang melekat dalam setiap diri manusia.

“Percuma mengaku Pancasila, tapi perbuatannya asusila. Pancasila mengandung nilai-nilai budaya yang berlaku dalam seluruh aspek kehidupan. Bukan hanya sebatas kesenian. Harapannya para generasi muda dapat melestarikannya”, tutur Parni Hadi sebagai pihak yang meresmikan Panggung Pentas Kreatifitas Dompet Dhuafa.

Pertunjukan Langendriyan yang mengangkat cerita rakyat Ande-Ande Lumut ini mengisahkan tentang seorang Putra Mahkota Kerajaan Jenggala yang dikenal dengan sebutan Raden Panji Inukertapati atau Panji Asmarabangun yang melakukan sayembara kepada gadis-gadis desa untuk menjadi istrinya.

Dalam kisah itu, gadis-gadis desa diantaranya Kleting Abang, Kleting Ijo, dan Kleting Biru melakukan perjalanan ke wilayah Panji Asmarabangun untuk mengikuti sayembara melalui sebuah sungai yang lebar. Namun dalam perjalanannya, gadis-gadis desa tersebut dihadapkan permasalahan oleh Yuyu Kangkang, sang penjaga sungai. Alih-alih memberikan jasa penyebarangan, Yuyu Kangkang meminta imbalan kepada gadis-gadis tersebut dengan syarat bersedia dicium oleh Yuyu Kangkang. Lekas gadis-gadis desa tersebut menyetujuinya, dengan pemikiran bahwa sang pangeran tidak akan mengetahuinya.

Seiring berjalannya kontestasi, seorang gadis bernama Kleting Kuning hendak mengikuti sayembara tersebut. Kleting Kuning  yang merupakan saudara angkat Kleting Abang, Kleting Ijo dan Kleting Bitu dari Kerajaan Jenggala, ternyata adalah Dewi Sekartaji yang diasingkan oleh selir Kerajaan Kediri yang menyamar menjadi gadis desa dengan nama samarannya Dewi Candrakirana. Sebelum sayembara terjadi, diam-diam Kleting Kuning dan Ande-Ande Lumut yang dikenal Pangeran Kusumayuda pernah berjumpa dan saling mengingat. Dalam hati, Ande-Ande Lumut mengetahui, gadis seharum bunga mawar itu adalah calon permaisuri Kerajaan Jenggala yang paling sempurna. Sayangnya, mereka tak pernah bertemu lagi.

Selama diperjalanan menyebrang sungai, Kleting Kuning tetap menjaga kesuciannya dari Yuyu Kangkang dengan melakukan perlawanan melalui senjata yang dititipkan oleh ibunya. Hingga setibanya Kleting Kuning di kediaman Ande-Ande Lumut, Sang Panji lantas menerima Kleting Kuning menjadi permaisurinya. Sang Panji mengetahui Kleting Kuning adalah gadis yang pernah ditemuinya, dan Kleting Kuning menyadari Ande-ande Lumut merupakan Raden Panji Inu Kertapati.

Kisah ini ini mengangkat nilai-nilai luhur tentang menjaga kesucian yang unsur utamanya adalah kebenaran dan keadilan.

Melalui Pementasan Langendriyan yang beberapa kali bekerjasama dengan Dompet Dhuafa, harapannya masyarakat dapat melestarikan seni dan budaya Indonesia khususnya Jawa sebagai langkah awal membangun peradaban yang dimulai secara bertahap dan berproses. Upaya pelestarian budaya Sanggar Suluk Nusantara pun tidak sebatas pementasan, namun seringkali mengadakan Diskusi antar lintas agama demi mewujudkan keragaman budaya yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari.

“intinya sebelum melakukan peradaban yang sepenuhnya, upaya pelestarian dimulai dari pementasan seni dan tari serta menumbuhkan diskusi antar lintas agama agar masyarakat kian sadar akan pentingnya memajukan budaya Indonesia”, tutur Bambang Wiwoho selaku Ketua Pembina Inisiator Sanggar Suluk Nusantara.

Penulis: Fauziah Rivanda

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Titik Nadir Demokrasi Indonesia?

Seminar Nasional: Arah Penegakan Hukum & Demokrasi Pasca Pemilu 2019 (7/11) Swarnainst…