Home Berita Radhar Panca Dahana: Radikalisme Penggerak Kebudayaan

Radhar Panca Dahana: Radikalisme Penggerak Kebudayaan

7 min read
0
0
504
Radhar Panca Dahana, Sastrawan dan Budayawan

Liputan Khusus – SwarnaInstitute.org. “Radikalisme itu penggerak kebudayaan. Tidak ada kebudayaan yang bergerak hebatnya tanpa radikalisme”. Menganggap “Radikal” sebagai sel utama yang dimiliki setiap manusia. Menjadi dasar gerak merevolusi sebuah peradaban yang bergulir seiring zaman, Radikalisme berperan besar menjelma pada setiap pemikir. Radikalisme mutlak dan wajib mensuplay kerja otak para ilmuan, agamawan, rohaniawan, seniman, bahkan budayawan. Begitulah seorang sastrawan, Radhar Panca Dahana (RPD) menginterpretasi makna Radikalisme.

Setahun belakangan, kata Radikalisme sangat kontroversial terlebih bagi pemerintah Indonesia yang menganggap pemikir-pemikir radikal berbahaya bagi stabilitas Negara dan dikhawatirkan mengancam ideologi Pancasila, sehingga Presiden Jokowi mencanangkan wacana menangkal radikalisme yang menyisir ideologi dalam berbagai aspek dan elemen bangsa. Dalam berpikir, rakyat dibatasi akan pemahamannya tentang sebuah ideologi terlebih yang diyakini secara pribadi.  Begitu potret sebuah negara yang mengaku instrumen politiknya berbasis kedaulatan rakyat, yang tanpa sadar mengarah kepada otoriter.

Kompleks dan destruktifnya pengaruh Radikalisme pada ranah sosial, membuat pemerintah panik akan kekuatan kaum radikal yang senantiasa menjadi oposisi. Bukan hanya oposisi atas berbagai aturan dan kebijakan, tetapi menekan revolusi asas negara yang telah dibangun oleh para proklamator kemerdekaan. Gelisah penguasa nampak pada narasi yang dikembangkannya dalam menafsirkan secara dangkal pemahaman tentang Radikalisme sendiri. Bagi RPD, pemerintah telah keliru memaknai kata Radikalisme, sehingga terjadi gagal paham dan friksi antar masyarakat berbangsa dan bernegara. Padahal radikal berfungsi menggerakan, melakukan perubahan yang signifikan dan mampu melawan arus terhadap hal-hal yang menyimpang dari dasar ajaran.

“Radikal menggerakan. Melakukan perubahan yang signifikan dan berani melawan arus. Nabi Muhammad itu radikal pikirannya. Radikalisme jangan dipahami secara sempit bahwa itu hanya berjalan dalam satu arus saja. Radikalisme itu bisa berpikir bebas dan arahnya bisa kemana-mana”, tutur RPD.

Dalam pandangannya, RPD menanggapi tafsir Radikalisme oleh pemerintah yang kadung mengarah pada kelompok ekstremis dan teroris bersifat mendestruksi sebuah orde. Secara hakikat, hal tersebut bukanlah dipahami sebagai Radikal. Kedangkalan berpikir mengenai radikal dalam dimensi mental tidak lantas menyimpulkan Radikalisme kelak mendestruksi orde. Baginya, ekstremis dan teroris bukanlah implementasi radikal, melainkan kriminal.

“Radikalisme yang disudutkan pemerintah itu radikalisme yang sifatnya mendestruksi orde. Lalu apakah itu dipahami radikal?. Tidak. Kalau menurut saya, teroris, ekstremis, jangan disebut radikal, justru hal itu kriminal”, tegasnya.

“Lalu mengatasinya bagaimana? Ada KUHP, selesai”, lanjut RPD.

Upaya destruksi sekelompok garis keras yang menggoyahkan orde/rezim yang berkuasa, memicu pemerintah menggunakan stigma Radikalisme yang sepihak sebagai senjata atas konsep yang kontradiksi terhadap kekuasaannya. Kepentingan para penguasa menggelincirkan tafsir sempit mengenai Radikalisme semata-mata demi menjaga otoritas dan kedaulatan yang diciptakannya.

“Kepentingannya itu karena pemerintah harus menghapus atau menghancurkan semua hal yang bertentangan dengan orde yang diciptakan. Karena orde yang ingin diciptakan, jika rusak, akan mengganggu otoritas dan kekuasaannya”, ujar RPD.

RPD juga menanggapi bahwa para pemimpin-pemimpin terdahulu seperti Nabi Muhammad justru turut mendestruksi sebuah orde di zaman jahiliyah pada masanya dan Soekarno yang berjuang membangun kemerdekaan RI atas kuasa kaum kolonial pada ordenya demi ketertiban kehidupan.

“Nabi Muhammad destruktif. Dia mendestruksi keberhalaan yang keliru. Bukan mendestruksi untuk tujuan yang tidak moralistik, tidak kultural, dan tidak etik. Soekarno itu bisa. Berjuang keras menciptakan orde demi ketertiban kehidupan”,

“Kebudayaan itu mencari ketertiban yang dilandasi oleh nilai-nilai bangsanya, yang harmonis, toleran, gotong royong”, tambahnya.

Radikalisme dalam kebudayaan menjadi dasar pemikiran budayawan dalam mempertahankan nilai dan norma adat istiadat yang kian terkikis pada zaman ini. Bukan menciptakan hal baru, namun seiring perkembangan dan kemajuan teknologi yang semakin pesat, norma dan moralitas kebudayaan mengalami degradasi bahkan resesi atas dominasi dan pengaruh ajaran impor yang bukan merupakan jati diri negeri bahari. Radikal demi menjaga jati diri kebudayaan bangsa Indonesia layak diperjuangkan sebagaimana fitrah kebudayaan membangun peradaban yang bermoral dan beradab dengan mengamalkan sejarah luhur budaya sebagai entitas sejati negeri bahari.

“Radikal dalam pikiran (kebudayaan) belum tentu menciptakan norma atau nilai baru atau perubahan baru. Radikal pemahaman saya itu menjunjung. Ketika nilai yang lama rusak dalam kehidupan masa kini, adat istiadat yang primer ribuan tahun lalu telah rusak, maka saya akan mengingatkan kembali hal itu. Dan itu radikal. Tidak ada yang baru, saya hanya mengambil yang lama”, tuturnya.

Penulis: Fauziah Rivanda

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Krisis Pangan, Jangan Salahkan Corona

Oleh: Nanang Nurhayudi Satu bulan yang lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatk…