Muhammad Mufti, Presiden Lajnah Tanfidziyah (LT) Partai Syarikat Islam Indonesia tahun 2007-2012

(Swarnainstitute.org). Ia bukan veteran. Bukan pula pujangga ataupun pengelana. Meski berusia 77 tahun, ia tetap berjuang menegakkan kebenaran agama Islam yang hakiki dan melanjutkan semangat kemerdekaan Islam yang digagas Sang Guru Bangsa, Cokroaminoto. Muhammad Mufthi, bak pejuang yang luput di telan bumi. Tak perlu banyak orang mengenalnya, sebab dia mengabdi tanpa pamrih, sekalipun kesempatan berkuasa terus hadir.

Kisahnya dimulai saat ia memutuskan pergi ke Jakarta demi memperkaya khasanah berpikirnya sebagai seorang siswa lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang haus akan ilmu agama. Terlebih tempat kelahirannya, Kebumen, menjadi titik awal pencarian jati dirinya yang dirintis dengan mengaji dan kegemarannya membaca Al Quran. Asa itu menuntun dia bergabung dalam sebuah pergerakan pemuda Islam yakni SEPMI (Serikat Pelajar Muslimin Indonesia) pada tahun 1964.

SEPMI merupakan sayap organisasi kepemudaan dari PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) menjadi pilihan Mufti dalam memupuk jiwa Islamnya. Kedekatannya dengan Anwar Cokroaminoto membawa dia menjadi anggota PSII sekaligus berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan pemuda di SEPMI.

“Saya dulu berjuang serabutan. Saya membangun SEPMI dari awal hingga kongres pertama tahun 1967 dan turut menjadi anggota PSII tahun 1970” ujar alumni IAIN Syarif Hidayatullah Fakultas Ushuluddin tahun 1967 itu.

Sejak SEPMI hingga kiprahnya menyatukan pemuda melawan Orde Lama di KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), Mufti semakin menguatkan keyakinan Islam dan mempelajarinya secara kompleks dari berbagai kalangan tokoh-tokoh pemikir Islam seperti Buya Hamka dan Kyai Ahmad Dahlan. Tak segan, ia juga berguru pada Sutan Takdir Alisyahbana, seorang penyair dan pemikir barat yang mempengaruhi dirinya bergelut dalam dunia Filsafat. Hingga pada akhirnya ia mulai mengagumi ajaran Islam yang diusung oleh Haji Oemar Said Cokroaminoto.

Islam dan Sosialis, baginya bukan dualisme yang terfragmentasi sebagai golongan “kiri”, terlepas dari Sarekat Islam (SI) yang kala itu menjadi sarang berkembangbiaknya ajaran, Mufti memahami implementasi agama Islam sejatinya berorientasi pada kemaslahatan umat yang nyata dibuktikan dalam setiap aspek kehidupan sosial.

“Orang diluar Islam itu takut dengan agama Islam. Islam dimana-mana mau dihabisi karena menghalang-halangi kebebasan penguasa untuk bersenang-senang. Nah, Pak Cokro itu Islam Sosialis. Praktek Sosialis itu direalisasikan untuk membela perjuangan umat”, tuturnya dengan tegas yang meyakinkan bahwa dirinya masih berjuang mengingat usia yang tak lagi muda.

Sosok Mufti yang dikenal dinamis dalam menggerakan ruh Islam pada diri pemuda-pemuda, menggiringnya untuk menghadapi konflik dalam tubuh PSII. Ia dihadapkan pada konstelasi politik dua kubu kepemimpinan PSII saat terjadinya kudeta pada tahun 1972 yang dilakukan oleh Syarifudin Harahap dan Suryo Ahmad Modjo, dkk kepada pimpinan PSII waktu itu, H.MCH. Ibrahim. Pasca Kongres Nasional / Majlis Tahkim XXXIII (MT 33) PSII yang diadakan 23-26 Juli 1972 di Majalaya Bandung, dengan menetapkan  H.Bustamam sebagai  Presiden Dewan Partai dan H.M.Ch.Ibrahim sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah (LT) Partai Syarikat Islam Indonesia, pada 22 Desember 1972 Syarifudin dan Modjo, dkk mengepung Kantor DPP Partai Syarikat Islam Indonesia yang terletak di Jl. Taman Amir Hamzah, Matraman, Jakarta Pusat. Bersama kelompok massa yang menamakan diri sebagai “Tim Penyelamat PSII”, Syarifudin dan Modjo memprovokasi dengan mengedarkan pamflet kepemimpinan PSII dengan judul “Pimpinan Darurat PSII” yang dipimpin oleh Anwar Cokroaminoto dan T.M. Gobel.

Terbelahnya kepemimpinan PSII diawali dari perebutan kekuasaan oleh Gobel (Wakil Presiden LT PSII) yang hendak menduduki jabatan sebagai Presiden LT PSII menggantikan Anwar Cokroaminoto. Gobel melakukan berbagai cara untuk memenuhi ambisinya dengan mendekati dan me-lobby istana cendana agar mendapat restu dari presiden Suharto. Hal itu terlihat ketika dirinya membacakan sambutan Kongres MT 33 mewakili presiden Suharto dengan harapan menarik simpati para wufud (peserta Kongres) agar dirinya terpilih menjadi Presiden LT PSII. Namun nyatanya para wufud justru tidak memandang baik perbuatan Gobel yang mencerminkan dirinya bukanlah sosok yang tepat menduduki jabatan tertinggi PSII.

Puncaknya, dalam pemilihan presiden LT baik Gobel dan Anwar Cokroaminoto kalah suara dan Ibrahim menang telak atas keduanya. Hal ini menunjukan betapa kuatnya arus demokratisasi di internal PSII dan hilangnya mitos “dinasti” Cokroaminoto.

Mengkristalnya situasi politik dalam PSII, menjadikan Mufti semakin yakin dengan PSII pimpinan MCH Ibrahim. Meski sempat diajak kudeta oleh Modjo, namun dirinya tidak terpengaruh dan mengakui hasil Kongres Nasional MT 33 dari dukungan umat jauh lebih penting dari pada restu pemerintah.

“Saya bilang tidak”, tegas Mufti

Semenjak kudeta, Mufti menyikapi PSII mengalami degradasi kepemimpinan dan melupakan ajaran serta cita-cita Cokroaminoto dalam memperjuangkan Islam sebagaimana ideologi PSII berasaskan Dinul Islam yang bertujuan menjalankan Islam seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya. Yang luas berarti universal dan penuh (dalam) berarti berkualitas. Terkait jabatan, bila terus menuntutnya maka akan menggilas visi PSII itu sendiri.

“Perjuangan ini rusak oleh orang-orang yang mengejar posisi. Sesungguhnya posisi itu tidak usah dikejar. Kalau kita benar kan pasti di kasih. Mengutamakan dan membela negara dengan memakmurkan dan memperkuat agama”.

“..saya tidak mengejar politik, saya mengejar perjuangan. Jadi umat Islam itu kebanyakan (termasuk sebagian anggota PSII) orientasinya bagaimana hidup baik di dunia dan di akhirat, tapi tidak ada perjuangan. Justru bagi mereka mengejar perjuangan itu mengejar posisi di pemerintahan”, lanjut Mufti.

Tanpa jeda, Mufti mengemukakan gagasan misi Islam yang dipelopori Cokroaminoto dalam beberapa program diantaranya, Program Asas, Tandhim, dan Reglement Umum. Program Asas memiliki 6 butir pokok perjuangan Dinul Islam yakni 1. Persatuan Umat Islam, 2. Kemerdekaan Umat, 3. Sifat Negara dan Pemerintahan, 4. Penghidupan Ekonomi, 5. Derajat Manusia, dan 6. Kemerdekaan Sejati, yang meliputi pola dasar usaha partai serta kebijakan sasaran pokok yang hendak dicapai berlandaskan langkah-langkah operasional program Tandhim, yakni Tauhid, Ilmu, dan Siyasah. Sementara Reglement Umum merupakan aturan umum dan dasar perjuangan keimanan umat Islam.

Disisi lain Mufti menilai, mayoritas anggota PSII cenderung mengarah pada program Siyasah, tanpa memahami secara utuh program Tauhid, Ilmu, maupun Reglement Umum. Sehingga dalam perjuangannya berorientasi pada kekuasaan (Siyasah) yang tidak berlandaskan sesuai dasar keimanan pada Reglement Umum.

“Reglement Umum ini dasar, setelah itu program Asas dan Tandhim, lalu Siyasah. Tapi banyak yang pengetahuan tentang Tauhidnya tidak dipenuhi, Ilmunya masih kurang mendalam, Siyasahnya justru diperkuat. Kenapa? Karena mengejar posisi. Politik lagi”, pungkas Mufti.

Orde Baru berakhir, Mufti bertahan dengan eksistensinya di PSII sebagai Sekjen DPP PSII dan Ohan Sujana sebagai Presiden LT DPP SII pada tahun 1998. Melenggang dalam Pemilu tahun 1999, PSII pun berevolusi menjadi PSII 1905 yang memiliki ciri khas awal perjuangan Sarekat Dagang Islam (SDI) atau SI yang dibangun oleh Samanhudi dan Cokroaminoto.

Meskipun tak mendapat satu suarapun di kursi parlemen, perjuangan dalam menjalankan Islam seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya tetap bertahan namun dalam identitas berbeda. Mengacu pada hasil Kongres MT tahun 2003, PSII 1905 memutuskan perubahan AD ART dari partai menjadi Ormas (Organisasi Kemasyarakatan), yakni Sarekat Islam Indonesia (SII).

“Kami tidak bisa jadi partai karena tidak memenuhi syarat, yaitu tidak mendapat kursi. Supaya tetap berjuang, kami jadi ormas”, kata Mufti.

Pada Kongres MT tahun 2003 pun Muhammad Mufti mendampingi Ohan Sujana yang terpilih lagi sebagai Presiden LT PSII dengan menduduki jabatan sebagai Wakil Presiden LT PSII periode 2003-2007.

Pasca revolusi PSII menjadi Ormas SII, Muhammad Mufti dipilih menjadi Presiden LT DPP SII tahun 2007-2012 dan menjabat sebagai Presiden Dewan Partai tahun 2012-2017. Sosoknya yang bijaksana dan revolusioner memperkuat SII dengan 5 sendi organisasi yang diusung Cokroaminoto, antara lain, 1. Musyawarah, 2. Disiplin, 3. Self Critic, 4. Gotong Royong, dan 5. Ikhlas.

Hal itu menunjukan bahwa dirinya mampu merubah bangsa Indonesia melalui perjuangan Dinul Islam yang didukung Sosialisme demi menyatukan umat Islam di seluruh Indonesia dengan menyadarkan esensi manusia sebagai Hamba Allah yang menjadi potret kemerdekaan sejati.

“Orang yang paling merdeka adalah orang yang merasa sebagai Hamba Allah”, tandas Mufti.

Penulis: Fauziah Rivanda

*beberapa keterangan dalam penulisan sebelumnya telah direvisi oleh tim redaksi Swarna.

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Krisis Pangan, Jangan Salahkan Corona

Oleh: Nanang Nurhayudi Satu bulan yang lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatk…