Home Berita Dari Hulu ke Hilir Tiap Babak Perkara Millah Abraham

Dari Hulu ke Hilir Tiap Babak Perkara Millah Abraham

9 min read
0
1
198
Adam Mirza, Penganut Millah Abraham dalam Konferensı Kebebasan Bergama dan Berpendapat, 18/8 (Screenshoot)

Swarnainsitute.org. Banyak hal yang janggal pada persidangan kelompok minoritas penganut Millah Abraham 4 tahun lalu. Bukannya menjadi korban, ketiga petinggi kelompok tersebut justru menjadi terdakwa dan dijerat pasal 156 A KUHP tentang Penodaan Agama. Padahal pembakaran yang terjadi di Mempawah, Kalimantan Barat dilakukan oleh massa setempat yang hingga saat ini belum pernah diusut dalangnya. Nahas, para penganut Millah Abraham (eks Gafatar) mesti angkat kaki dari tanah Borneo dan dipulangkan secara paksa oleh aparat dan pemerintah setempat ke daerah asalnya.

Alih-alih langkah pemerintah yang berupaya mengamankan, kelompok Millah Abraham malah mendapat tindakan persekusi yang berupa intimidasi bahkan diskriminasi saat dipulangkan. Pertanyaannya, bila penganut Millah Abraham dianggap salah atas pelanggaran hukum, mengapa tidak diproses di wilayah hukum tempat terjadinya pelanggaran (locus tempus delicti)?, Mengapa harus dipulangkan dulu kemudian diproses hukum? Dan siapa yang menjadi aktor dibalik pembakaran tersebut? Mengapa kasus seolah mengindahkan pelaku yang sengaja tak diungkap keberadaannya dan menjerumuskan korban ke jeruji besi yang sekaligus dipagari SKB Tiga Menteri? Beberapa pertanyaan yang saat ini masih mengusik benak diri Adam Mirza, seorang penganut Millah Abraham yang disampaikan saat liputan khusus.

Mengungkap fakta peristiwa tersebut agaknya mustahil dilakukan di negeri ini. Sekalipun korban yang dipulangkan mencapai 8.000 orang. Tidak satupun pelaku dihadirkan di muka persidangan. Sungguh mengerikan potret hukum atas ketidakadilan sosial yang dialami Millah Abraham, di mana resesi Hak Asasi Manusia (HAM) atas kebebasan beragama dan berkeyakinan tengah berada pada titik nadirnya. Terlebih Pasal Penodaan Agama yang tidak membuktikan adanya tindakan penistaan agama yang dilakukan oleh penganut Millah Abraham.

“Bila kami dianggap menculik dokter Rica (pengikut Millah Abraham) yang hendak bertransmigrasi ke Kalimantan, mengapa kami tidak dijerat pasal penculikan (padahal dokter Rica pergi secara sukarela)?”, ulas Adam saat menjelaskan perihal peristiwa dr. Rica, yang pindah ke Kalimantan dan mempertanyakan tuduhan Penodaan Agama terhadap kelompoknya.

Meski begitu, Adam memandang segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan. Sikapnya pada pemerintah yang tunduk pada semua keputusan persidangan kala itu menguji keimanan dirinya akan paham yang ia yakini dalam Al Kitab Roma pasal 13 ayat 1.

“Hendaklah tiap diri tunduk pada pemerintah diatasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah”, tuturnya.

Atas dasar kesadaran, Adam meyakini ajaran Millah Abraham sebagai jalan kebenaran ilahi, sebuah paham tentang perjalanan para revolusioner peradaban yang menggunakan kitab-kitab suci sebagai pedoman hidup bagi setiap manusia. Maka dari itu, Adam mengatakan, Millah Abraham bukan sebuah agama ataupun ajaran baru, melainkan ajaran yang jelas track record nya berdasarkan jejak para pemimpin terdahulu. Meskipun kitab-kitab suci yang berasal dari Tuhan dipandang abstrak pembuktiannya dan objektifitas yang sulit diukur oleh rasio manusia, namun menurut Adam, ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab suci diperlukan uji empiris sebagai bentuk afirmasi sebuah kebenaran akan keabsahan kitab suci sehingga menjadi petunjuk dan role model kehidupan dalam mengabdi kepada Sang Pencipta sesuai fitrah-Nya.

“Kalau kita sedang di jalan, lalu menemukan sebuah signboard (petunjuk jalan), cara kita menguji empiris kebenaran itu harus kita jalani. Benar atau tidak?. Kita bisa menilai kebenaran sebuah petunjuk dengan adanya uji empiris. Itu dasarnya mengapa Millah Abraham memakai kitab suci sebagai sumber dan petunjuk hidup”, ujar Adam.

Adam mengatakan, alasan Millah Abraham menggunakan kitab-kitab suci sebagai landasan perjuangan misi risalah diakui telah terbukti keberhasilan dan kemenangannya oleh para nabi dan rasul yang silih berganti membangun sebuah peradaban besar

“Kitab-kitab suci dalam kacamata Millah Abraham adalah sebuah success story, sebagaimana tokoh-tokoh revolusioner peradaban itu (Nabi Musa, Isa as, dan Muhammad SAW) berhasil membangun sebuah peradaban yang sukses, damai dan sejahtera”, kata Adam.

Maka Millah Abraham, lanjut Adam, tidak mengurusi ritualitas pribadi penganutnya yang mana konsep Millah Abraham bukan paham keagamaan, melainkan Din Al Islam yakni sistem kehidupan universal yang rahmatan lil alamin diatas konsep sekularistik.

Sebagai konsep rahmatan lil alamin, Adam menepis stigma yang beredar bahwa adanya keterlibatan jejak NII (Negara Islam Indonesia) dalam paham Millah Abraham. Menurutnya NII dan Millah Abraham adalah dua paham yang berbeda dalam memandang konsep Din Al Islam, sehingga tidak ada kaitannya Millah Abraham memiliki kepentingan tertentu ingin mendirikan sebuah negara (dalam negara), sebagaimana paradigma berpikir yang keliru oleh kebanyakan orang, lalu berujung pada dugaan perbuatan makar.

Belum lagi stigma sesat oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang mengatakan kelompok Millah Abraham (eks Gafatar) kamuflase dari Al Qiyadah Al Islamiyah yang didirikan oleh Abdussalam (Ahmad Musadeq). Hinggap bak langau titik bak hujan, stigma hadir bagaikan api yang sekaligus memberikan stereotipe sesat tanpa membuka ruang kebebasan berpendapat kepada kelompok Millah Abraham. Bagaimana mungkin sesama Ormas menghakimi Ormas lain tanpa diskusi atau dialog antar iman?. Sungguh aneh tapi nyata adanya.

Tiap babak perkara yang dialami kelompok Millah Abraham nampaknya tak kunjung usai. Kejanggalan demi kejanggalan dalam proses mengungkapkan kebenaran kasusnya tak sedikitpun menemukan titik terang. Justru diskriminasi dan kriminalisasi yang saat ini masih membekas dalam ingatan para penganut Millah Abraham.

Kendati akan hal tersebut, Millah Abraham hadir bukan berasal dari kepentingan suatu golongan tertentu. Niat sedikitpun tak ada dalam ajaran Millah Abraham ingin menggulingkan pemerintahan yang saat ini berkuasa. Suksesi perjuangan yang digagas Millah Abraham semata-mata demi melahirkan manusia-manusia berkarakter Tuhan dengan menghilangkan segala kepentingan pribadi dan golongan sehingga menjadi manusia paripurna yang seutuhnya menghamba kepada Sang Pencipta.

“Millah Abraham ingin mencetak manusia-manusia yang sudah tidak punya kepentingan untuk pribadi dan golongan lagi. Dimana manusia hanya memiliki kepentingan untuk semesta. Dunia ini perlu orang-orang yang berkarakter Tuhan dan menjadi manusia paripurna (Insan Kamil)”, tegas Adam.

Penulis: Fauziah Rivanda

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Adam Mirza: Millah Abraham Sistem Universal

Konferensi Pers Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: “UU Penodaan Agama, Perlindunga…