Home Berita WEBINAR URBAN FARMING: Bertani ala Tosca Santoso dan M. Yusra

WEBINAR URBAN FARMING: Bertani ala Tosca Santoso dan M. Yusra

6 min read
0
0
93
Webinar Urban Farming: Kebiasaan Baru Urban Farming dan Pemanfaatan Hutan Kopi

(Swarna Institute). Konsep Pertanian “Urban Farming” kini menjadi tren dan gaya hidup bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas untuk bercocok tanam secara mandiri. Beberapa masyarakat Urban sadar betapa pentingnya kualitas hidup sehat yang hanya bisa ditingkatkan lewat aktivitas berkebun sekaligus mengurangi polusi yang berdampak buruk bagi kesehatan. Terlebih padatnya pembangunan di perkotaan yang membatasi ruang-ruang terbuka hijau sehingga memicu ketidakstabilan ekosistem lingkungan. Selain efisien, Urban Farming memiliki peran aktif demi menjaga kelangsungan hidup bagi masyarakat perkotaan. Sejumlah penelitian pun menyebutkan bahwa urban farming dapat menjadi konsep pertanian ideal di masa depan. 

Produktifnya gerakan Urban Farming dipercaya dapat mencukupi ketersediaan bahan makanan dan memperkuat ketahanan pangan bila mampu diproyeksikan massif oleh sebagian kelompok, sekaligus turut menunjang kondisi ekonomi masyarakat melalui hasil pemasaran Urban Farming, seperti yang dilakukan oleh aktivis kehutanan yang juga menjadi petani kopi Desa Sarongge, yakni Tosca Santoso. 

Dalam Webinar Urban Farming yang dilaksanakan oleh Swarna Institute (11/10), Tosca Santoso mulai aktif bertanam kopi sejak tahun 2008 dan membina 65 petani kopi yang sebelumnya bertani sayuran di lereng gunung pangrango. Melalui konsep agroforestry, mantan jurnalis dan pendiri AJI tersebut menggunakan dan merawat hutan dengan menambah komoditas kopi di lereng gunung Gede Pangrango di ketinggian 1000 mdpl. Hingga tahun 2014 para petani Desa Sarongge memulai membuat bibit kopi yang baru muncul dari biji dengan waktu satu tahun untuk proses penanaman. 

Saat ini Tosca juga memanfaatkan program nasional Perhutanan Sosial yang diinisiasi presiden Joko Widodo sejak tahun 2017 dimana hutan dapat digunakan sebagai produksi komoditi tani, salah satunya kopi, dengan turut merawat dan melestarikan hutan serta meningkatkan pendapatan bagi petani. Target Joko Widodo yang membagikan lahan hutan negara kepada petani sebanyak 12,7 juta ha, kata Tosca, diharapkan dapat memberikan akses bagi petani agar bisa menjadi lahan guna meningkatkan produktifitas komoditi tani dan hasil pendapatannya.

Kisah lain mengenai perjuangan Urban Farming lainnya juga hadir dari seorang petani hidroponik mandiri yang juga menjadi narasumber dalam Webinar Urban Farming yakni M. Yusra. Sebagai seorang engineering muda yang sibuk mengurusi perusahaan otomotif yang ia pimpin, namun dirinya aktif melakukan kegiatan Urban Farming atau program yang ia kenal sebagai Rumah Pangan Mandiri. Di sela-sela waktunya, Yusra (37) berupaya mendukung petani-petani lokal dalam menumbuhkan semangatnya untuk meningkatkan kualitas hidup petani. Beberapa upaya kecil yang telah dilakukannya adalah menjadikan lahan,  proses tanam, panen, sampai dengan distribusi menggunakan konsep lean manufacturing. Melalui pemikirannya, ia menyampaikan jika konsep industri diterapkan ke dalam pertanian, maka dapat meningkatkan produktifitas pertanian yang lebih baik dan stabil. Sehingga memungkinkan untuk dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional. 

Yusra juga menyampaikan bahwa bertani merupakan solusi ekonomi di masa pandemi. Ditengah krisis pangan dan ancaman resesi yang diperkirakan akan dialami Indonesia, bertani merupakan langkah awal untuk mencegah hal itu terjadi.

Menjadi sosok seorang petani, Yusra memahami betul bahwa Petani merupakan profesi mulia. Ia menyampaikan para petani memiliki tugas penting dalam menjaga tumbuh kembang tanaman. Sebuah pohon, kata Yusra, akan menghasilkan buah yang baik bila memiliki akar yang kuat dan batang yang besar. Yusra mempelajari filosofi akar pada setiap makhluk hidup khususnya manusia agar dapat dimaknai secara fundamental dengan mengenal jati diri dan hakikat setiap makhluk ciptaan Tuhan Semesta Alam. “Pentingnya mengenal sebuah pohon sebagaimana mengenal diri sendiri. Sebab, sebuah pohon/tanaman mencerminkan sosok petani yang menanamnya”, ujar Yusra.


Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ormas Barupas Gelar Deklarasi Dukung Penuh Pradi-Afifah

Jajaran pengurus BARUPAS dalam deklarasinya mendukung Pradi Supriatna dan Afifah Alia seba…