Home Berita LBH Pers: Survei Upah Layak AJI Jadi Acuan Pemerintah Masuk Kategori Upah Sektoral

LBH Pers: Survei Upah Layak AJI Jadi Acuan Pemerintah Masuk Kategori Upah Sektoral

4 min read
0
0
918

Jakarta – AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Jakarta merilis angka upah layak pemula untuk tahun 2019 sebesar RP 8.420.000 setiap bulannya. Besaran angka ini diliputi oleh 40 komponen kebutuhan hidup layak jurnalis berdasarkan lima kategori ditambah alokasi tabungan 10 persen. Kategori itu adalah makanan, tempat tinggal, sandang, kebutuhan penunjang, dan kebutuhan lain seperti paket data internet, transportasi, dan komunikasi. Selain itu ada kebutuhan untuk memperluas wawasan jurnalis seperti bahan bacaan dan langganan koran atau majalah (baik daring maupun luring).

Responden survei dilakukan oleh 87 orang jurnalis pemula dari 36 media, baik cetak, siber, televisi, dan radio di Jakarta. Jurnalis pemula dalam kategori Dewan Pers yakni wartawan muda yang bekerja di media selama 1-3 tahun atau masa kerja kurang dari 5 tahun.

Terpenuhinya upah layak bagi jurnalis penting untuk meningkatkan mutu produk jurnalistik. Jurnalis yang menerima upah secara layak dapat bekerja secara professional dan tidak rentan tergoda menerima amplop yang merusak independensi jurnalis.

“AJI Jakarta mendesak perusahaan media mengupah jurnalisnya dengan layak agar jurnalis dapat bekerja dengan independen dan professional”, kata ketua DIvisi Serikat Pekerja AJI Jakarta, Aulia Afrianshah melalui keterangan rilisnya.

Dalam temuan survei upah layak AJI Jakarta, terdapat 10 media masih menggaji jurnalisnya di bawah UMP DKI Jakarta 2019 (Rp 3,94 juta) dan hanya satu media yang mengupah wartawan di atas standar upah layak Rp 8,42 juta, yaitu Harian Kompas.

Jurnalis, sebagai profesi dengan resiko yang tinggi seringkali tidak mendapatkan hak-haknya layaknya pekerja lain. Dari 87 responden survei, sebanyak 40 persen menyebutkan hari libur mereka kurang dari dua hari dalam sepekan. 32 persen mayoritas jurnalis bekerja lebih dari 10 jam dalam sehari. Dan sebanyak 83 responden (95 persen) menyatakan tidak mendapat uang lembur jika bekerja lebih dari 8 jam.

Profesi jurnalis di mata pemerintah masih jauh dari standar upah layak AJI Jakarta. Melalui Survei Upah Layak yang dirilis AJI Jakarta, Gading Yonggar Ditya selaku LBH Pers menyampaikan profesi jurnalis atau pekerja media berbeda dengan profesi lainnya. Ia mengatakan ada tiga karakteristik dari profesi jurnalis yang mengerucut pada aspek kesejahteraan jurnalis saat melakukan kerja-kerja jurnalistiknya, diantaranya tingkat mobilitas dan operasional jurnalis dalam peliputan, rentannya ancaman jurnalis yang menimbulkan aspek keamanan, serta hasil dalam melakukan tugas dapat mempengaruhi informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat.

“Ketiga karakteristik ini menentukan aspek kesejahteraan yang mempengaruhi independensi kerja jurnalis di lapangan”, tegasnya dalam Diskusi Upah Layak AJI Jakarta, Minggu 27 Januari lalu.

Ia juga menambahkan standar upah layak AJI Jakarta dapat dijadikan referensi bagi pemerintah untuk masuk dalam kelompok upah sektoral seperti migas, manufaktur, dan lain sebagainya.

“Upah Layak yang dirilis AJI Jakarta sangat membantu dan menjadi referensi bagi pemerintah selaku decision maker untuk mempertimbangkan ada karakteristik dari pekerjaan jurnalistik yang patut dipertimbangkan komponen-komponennya, dan kedepan dapat melakukan advokasi berjalan agar profesi jurnalis atau perusahaan media menjadi perhatian khusus dan upahnya masuk ke dalam kategori satu upah sektoral”, tutur Gading.

 

Reporter: Fauziah Rivanda

Load More Related Articles
Load More By swarna
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ormas Barupas Gelar Deklarasi Dukung Penuh Pradi-Afifah

Jajaran pengurus BARUPAS dalam deklarasinya mendukung Pradi Supriatna dan Afifah Alia seba…